Utilitarianisme Jeremy Bentham: bagaimana kebahagiaan mendefinisikan tindakan moral

0
7

Jeremy Bentham bukan hanya seorang filsuf. Dia memakai banyak topi. Ekonom. Ahli hukum. Pembaru hukum. Namun dia paling dikenal sebagai pendiri utilitarianisme modern.

Teorinya sangat jelas. Tindakan secara moral benar jika meningkatkan kebahagiaan atau kesenangan. Salah jika hal itu menyebabkan ketidakbahagiaan atau kesakitan. Hal ini berlaku bagi semua orang yang terkena dampak tindakan tersebut. Ini bukan tentang preferensi individu. Ini tentang dampak agregat.

Matematika moralitas

Bentham memperlakukan etika seperti kalkulus. Dia menginginkan sebuah sistem di mana Anda dapat mengukur hasil. Jika suatu tindakan meningkatkan kenikmatan bersih, itu bagus. Jika itu meningkatkan rasa sakit, itu buruk.

Pendekatan ini mengalihkan fokus dari niat ke konsekuensi. Tidak masalah apa yang ingin Anda lakukan. Yang penting adalah apa yang sebenarnya terjadi. Tujuannya adalah kebahagiaan terbesar bagi jumlah terbesar.

Mengapa hal itu penting saat ini

Utilitarianisme mempengaruhi kebijakan, hukum, dan keputusan bisnis. Ketika pemerintah mengalokasikan sumber daya, mereka sering kali mempertimbangkan biaya dan manfaatnya. Itu adalah pemikiran utilitarian. Ini praktis. Itu bisa diukur. Ini juga kontroversial.

Tidak semua orang setuju bahwa kebahagiaan bisa diukur. Beberapa orang berpendapat bahwa hal itu mengabaikan hak-hak individu. Yang lain bilang itu terlalu dingin. Namun kerangka tersebut tetap kuat. Hal ini memaksa kita untuk melihat dampak nyata dari pilihan kita.

Bentham meninggal pada tahun 1832. Ide-idenya tidak mati bersamanya. Hal ini tertanam dalam cara kita berpikir tentang keadilan, efisiensi, dan kesejahteraan masyarakat. Pertanyaannya bukanlah apakah kita menggunakan utilitarianisme. Tergantung apakah kita menggunakannya dengan baik.